Cara Menentukan Awal Puasa Ramadhan Menurut Para Alim Ulama

Cara Menentukan Awal Puasa Ramadhan Menurut Para Alim Ulama

Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah penting bagi umat muslim, karena memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan. Namun ternyata, cara menentukan awal puasa Ramadhan bisa berbeda dari beberapa kalangan dan juga daerah. Penasaran kenapa bisa berbeda? Mari simak penjelasan berikut!

Cara Menentukan Awal Puasa Ramadhan

Tak hanya negara-negara besar, beberapa daerah Indonesia saja bisa memiliki awal puasa ramadhan yang berbeda. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena menurut para alim ulama ada beberapa cara menentukan awal puasa Ramadhan, seperti:

1. Metode Hisab

Cara pertama adalah dengan metode hisab yang merupakan salah satu cara tertua dan sudah ada sejak zaman Rasuk. Metode ini menggunakan perhitungan matematika dan astronomi, lebih tepatnya memperhitungkan serta mengamati pergerakan bulan dan matahari secara teoritis.

Cara ini memperhitungkan gerakan bulan dan matahari, serta informasi tentang fase bulan pada tahun sebelumnya. Ketika menggunakan informasi ini, para ahli hisab dapat memperkirakan kapan awal bulan ramadhan. Mudahnya, cara ini akan memperhitungkan bulan ramadhan menurut ketentuan kalender Islam atau Hijriyah.

Para ulama yang menggunakan cara menentukan awal puasa ini percaya hilal memang ada walaupun tak terlihat dengan mata telanjang melalui perhitungan astronomi itu. Ada tiga syarat dalam penentuan ini. Seperti adanya ijtimak, munculnya ijtimak sebelum matahari terbenam, adanya bulan baru.

Penentuan awal puasa ini biasanya muncul jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan. Hasilnya akan diumumkan oleh badan resmi atau lembaga. Metode hisab juga bisa berguna untuk menentukan waktu shalat dan ibadah lainnya, khususnya untuk jadwal imsak ramadhan.

2. Metode Imkanur Rukyah

Cara menentukan awal puasa Ramadhan berikutnya adalah metode Imkanur Rukyah atau rukyatul hilal yang merupakan cara penentuan dengan mengamati hilal atau bulan sabit secara langsung. Hilal sendiri merupakan fase awal saat bulan tampak sebagai cahaya tipis pada langit setelah terbenamnya matahari.

Pengamatan hilal ini biasanya harus dilakukan secara mendalam, baik secara kasat mata maupun menggunakan bantuan alat optik seperti teleskop. Perhitungannya sendiri berlangsung pada malam tertentu setelah bulan sebelumnya atau saat Sya’ban sudah berakhir. 

Metode ini memiliki akurasi lebih baik daripada perhitungan awal puasa Ramadhan secara hisab. Bahkan pada awalnya Rasuk SAW menginstruksikan pada sahabat untuk melaporkan adanya bulan sabit baru dengan mengamati secara kasat mata. 

Metode ini juga muncul pada Surat Al Baqarah ayat 185 yang berbunyi: “Karena itum barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan tersebut.” Bulan pada ayat tersebut mengacu pada bulan sabit atau anak bulan, atau yang sering disebut hilal.

Namun, karena posisi bulan bisa berbeda dari berbagai daerah, hal tersebut membuat puasa di berbagai negara atau daerah bisa berbeda-beda. Pengamatannya juga harus pada tempat tertentu khususnya tempat yang lebih valid menentukan hilal tersebut. Walaupun karena lebih sulit, metode ini sering ramai dan jadi kontroversi.

Anda Sudah Tahu Cara Menentukan Awal Puasa Ramadhan?

Itulah cara yang para alim ulama, badan keagamaan terpercaya dan golongan gunakan untuk penentuan awal puasa. Namun, beberapa golongan lebih memilih mengombinasikan dua metode tersbeut. Karena itu, banyak kelompok dan lembaga keagamaan mengeluarkan kalender masehi dan hijriyah dengan kombinasi 2 metode. Lembaga tersebut ternyata bisa membuat kalender secara mudah dengan menggunakan jasa Jagoan Kalender. Selain lebih hemat waktu, Jagoan Kalender juga menyediakan berbagai layanan. Seperti gratis desain, gratis dummy, dan gratis. Jasa cetak kalender ini juga jadi andalan banyak instansi keagamaan. Jadi kredibilitasnya sudah terjamin. Anda juga butuh cetak kalender? Pakai jasa Jagoan Kalender saja!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *